Jalan Raya di Masa Depan, Jalan Raya Glow in the Dark

Pernahkah membayangkan berjalan di antara “bintang-bintang“ yang bertebaran?

Coba saja mampir di Negara tetangga kita, Singapura tepatnya di koridor kereta listrik antara jalan Cho Chu Kang dan jalan Upper Bukit Timah. Disana kamu akan temukan jalur yang menyala sepanjang 100 meter dimana jalur tersebut dilapisi dengan bahan glow in the dark (phosphorescent) berbahan strontium aluminate. Bahan strontium aluminate tersebut akan menyerap sinar cahaya matahari di siang hari dan akan memancarkan cahaya kembali pada saat malam hari hingga 8 jam.

Jalan setapak sepanjang 100 meter tersebut merupakan salah satu bagian dari percobaan pemerintah Singapura untuk meninjau ulang perbaikan dari jalur kereta api yang sebelumnya ada di daerah tersebut. Jalur tersebut rencananya akan dikembangkan menjadi ruang publik dan pemukiman penduduk dan pemerintah Singapura menggunakan 4 jenis material untuk melapisi permukaan jalan tersebut yaitu, batu kerikil halus, rumput dan bebatuan, beton berpori dan bahan phosphorescent yang berbasis strontium aluminate.

Percobaan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menentukan material apa yang paling aman dan tahan untuk jalur tersebut. Pihak pemerintah Singapura selain melakukan pengukuran ketahanan keempat jenis material tersebut juga akan meninjau bagaimana tanggapan dan respon publik terhadap performa dan ketahanan empat material tersebut.

Sebenarnya jalan glow in the dark tersebut bukanlah yang pertama yang pernah dibuat, sebelumnya pada tahun 2014 teknologi marking glow in the dark telah diaplikasikan di jalan tol di kota Oss yang berjarak kurang lebih 100 km selatan kota Amsterdam. Percobaan teknologi photoluminiscent sepanjang 500 meter tersebut merupakan yang pertama dilakukan oleh pemerintah Belanda untuk mengetahui seberapa efektif dan efisien alternative penggantian lampu jalan tersebut. Di kiri kanan jalanan beraspal tersebut dibuat marking garis yang dilapisi cat yang mangandung photoluminiscent berbahan strontium aluminate dimana pada siang hari menyerap dan menyimpan cahaya matahari dan mengeluarkan cahaya hijau pada malam harinya. Sinar cahaya yang dipendarkan oleh cat fosfor tersebut akan nyala dan berangsur-angsur meredup hingga 8 jam lamanya. Pemerintah Belanda cukup tertarik dengan teknologi photoluminiscent tersebut namun kondisi jalan saat cuaca ekstrim seperti musim dingin masih menjadi bahan pertimbangan.

Selain di kota Oss, kamu bisa meluncur ke sebuah kota kecil kelahiran Vincent van Gogh, kota Eindhoven untuk menelusuri jalan setapak yang dihiasi bak galaksi tata surya bimasakti?. Seorang artis Belanda bernama Daan Roosegaarde membuat sebuah jalur sepeda sepanjang 600 meter yang mengandung bebatuan yang bisa menyala dalam gelap (glow in the dark). Bebatuan yang mengandung phosphorescent tersebut ditata sedemikian rupa menyerupai karya lukisan Van Gogh yang berjudul Starry Night. Jalur sepeda ini terletak di lokasi dimana Van Gogh terinspirasi dan membuat beberapa karya masterpiece seperti The Potato Eaters dan the Opwettense Watermolen and Collse Watermolen.

Jika kamu adalah penggemar karya Van Gogh, pastikan untuk menelusuri jalan berbatu glow in the dark ini dengan bersepeda maka kamu akan belajar banyak hal tentang karya dan kehidupannya sekaligus merasakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan akan “jalan yang berbintang”.

Berbicara tentang jalur sepeda glow in the dark, Belanda bukan satu-satunya negara yang memiliki jalur tersebut, coba saja ke Polandia dekat daerah Lidzbark Warminski ada sebuah jalur sepeda bernama Pruszków yang “menyala” terhampar indah memancarkan warna kebiruan pada malam hari. Jalur aspal tersebut dilapisi dengan bahan fosfor yang menyala 8-10 jam sejak dikenakan sinar matahari. Pemerintah Polandia sendiri masih mengkaji kemungkinan untuk menerapkan jalan hemat energy seperti jalan glow in the dark pada lingkup yang lebih luas seperti jalan tol yang ada di Belanda.