Perjalanan Sejarah Lume Jam Tangan

Pernahkah anda bertanya tanya bagaimana cara kerja jam tangan yang menyala dalam gelap?

Apa sumber tenaga titik kecil yang menyala tersebut?

Umumnya kita mengenal itu sebagai glow in the dark atau fosfor namun di dunia jam tangan orang akan lebih spesifik mengatakan itu lume. Ketiga kata tersebut mempunyai rujukan arti yang sama yaitu berpendar dalam gelap tanpa adanya sumber tenaga seperti baterai atau listrik dengan efek nyala yang lembut.

Teknologi lume di jam tangan bermula ketika Marie dan Pierre Curie di tahun 1898 menemukan bahan radium yang mempunya kemampuan berpendar sendiri. Bahan radium adalah bahan radioaktif yang berbahaya tapi dalam dosis kecil, sang pemakai jam tangan relatif tidak terpapar bahaya radioaktif radium. Radium mampu berpendar terus menerus tanpa perlu sumber tenaga sampai ratusan tahun.

Pada awal tahun 1910-an industry jam tangan mulai menggunakan bahan radium untuk mewarnai jam tangan di bagian dial dan titik angka. Kerjaan melukis yang membutuhkan kejelian dan ketajaman aplikasi kuas itu biasanya dikerjakan oleh gadis muda di pabrik jam tangan. Bulu kuas akan menjadi lembek dan lemas setelah dikuaskan beberapa kali ke jam tangan tersebut sehingga gadis muda tersebut menggunakan ujung lidah dan mulutnya untuk membasahkan supaya ujung kuas bisa kembali lurus dan tajam. Pada masa itu bahan radioaktif tidak dianggap bahan yang berbahaya bagi kesehatan ditambah lagi pabrik jam tangan mengkonfirmasikan ke pekerja kalau bahan radium adalah bahan yang aman.

Radium yang mampu menyala sendiri dalam gelap menjadi mainan baru bagi gadis muda pabrik tersebut. Mereka bahkan mengkuaskan bahan radium tersebut ke gigi, muka atau area mata sebagai make up yang mampu menyala dalam gelap. Tentu saja, seiring lamanya mereka bersentuhan dengan bahan radium tersebut satu persatu gadis pekerja itu mulai sakit dan meninggal.

Akhirnya pada awal tahun 1950-an, penggunaan radium sebagai bahan warna jam tangan sudah dinyatakan sebagai bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Kemudian mulai dikenal teknologi tritium yang walaupun masih termasuk radiokaktif tapi dianggap lebih aman dibandingkan radium. Kemudian muncullah teknologi zinc sulfide dan terakhir adalah strontium aluminate yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang Nemoto & co dengan merek dagang Luminova dan Super Luminova di tahun 1993. Strontium Aluminate dianggap aman sehingga penggunaan bahan kimia strontium aluminate mulai populer di awal tahun 1993-an. Strontium Aluminate mampu menyala selama 12 jam setelah disinarin dengan cahaya kandungan sinar ultraviolet selama jangka waktu tertentu dan 10 kali lebih terang daripada zinc sulfide.